Apa Itu Video “Ms. Pacman”?
Istilah “Ms. Pacman” yang beredar di internet merujuk pada rekaman kekerasan yang berkaitan dengan kasus pembunuhan Alejandra Icó Chub di Guatemala.
Julukan tersebut bukan nama asli korban. Nama “Ms. Pacman” muncul dari komunitas internet yang menghubungkan kondisi korban dalam rekaman dengan karakter gim Ms. Pac-Man.
Karena itulah, penggunaan istilah tersebut sebenarnya dapat mengaburkan fakta utama dari kasus ini. Di balik sebuah nama yang terdengar seperti karakter permainan terdapat seorang perempuan nyata yang menjadi korban kekerasan.
Nama korban yang benar adalah Alejandra Icó Chub.
Sejumlah situs internet pernah menuliskan nama korban secara keliru sebagai “Alejandro Ico Chub”. Namun, laporan media Guatemala seperti Prensa Libre secara konsisten menyebut korban sebagai Alejandra Icó Chub.
Siapa Alejandra Icó Chub?
Alejandra Icó Chub merupakan perempuan dari komunitas Maya-Q’eqchi yang tinggal di wilayah Chisec, Alta Verapaz, Guatemala.
Ketika meninggal dunia pada 2018, Alejandra berusia 32 tahun dan meninggalkan tiga orang anak.
Wilayah Alta Verapaz merupakan salah satu daerah Guatemala yang memiliki banyak komunitas pedesaan dan masyarakat adat. Kasus Alejandra kemudian mendapat perhatian karena memperlihatkan bagaimana kekerasan terhadap perempuan dapat terjadi dalam lingkungan yang memiliki keterbatasan akses terhadap berbagai layanan dan institusi.
Selain persoalan hukum, kasus tersebut juga memperlihatkan dampak panjang terhadap anak-anak korban yang harus kehilangan ibu mereka.
Kronologi Kasus
29 Oktober 2018: Kekerasan Terjadi
Peristiwa terjadi pada malam 29 Oktober 2018 di wilayah Isla del Norte, aldea San Miguel, municipio Chisec, Departemen Alta Verapaz.
Berdasarkan keterangan yang kemudian muncul dalam proses hukum, terjadi perselisihan antara Alejandra dan pasangannya, Mario Tut Ical.
Mario kemudian menyerang Alejandra menggunakan senjata tajam berupa parang atau machete. Serangan tersebut menyebabkan korban mengalami luka sangat serius dan akhirnya meninggal dunia.
Laporan media Guatemala pada saat kejadian menyebut warga menemukan korban di rumah dalam kondisi mengalami luka akibat serangan senjata tajam.
Rekaman Mulai Beredar
Peristiwa tersebut kemudian menjadi semakin dikenal karena kondisi korban direkam menggunakan telepon seluler.
Rekaman tersebut kemudian tersebar melalui media sosial dan berbagai platform internet. Bertahun-tahun setelah kejadian, rekaman itu kembali muncul dalam berbagai unggahan dan forum dengan nama “Ms. Pacman”.
Penyebaran rekaman tersebut membuat kasus Alejandra tidak hanya dikenal di Guatemala, tetapi juga menjadi bahan pembicaraan di berbagai negara.
Pelarian Mario Tut Ical
Setelah kejadian, Mario Tut Ical meninggalkan lokasi.
Pada 31 Oktober 2018, warga dilaporkan berhasil menemukan dan menahan Mario di wilayah Las Muñecas, Ixcán, Quiché.
Saat itu ia diduga sedang berusaha melarikan diri menuju wilayah perbatasan Guatemala-Meksiko.
Polisi kemudian datang ke lokasi untuk mengamankan Mario dan membawanya menjalani proses hukum. Ia selanjutnya dibawa ke Cobán untuk menghadapi perkara pidana.
Dalam pemberitaan mengenai penangkapannya, Mario disebut memberikan keterangan mengenai perbuatannya dan mengaitkannya dengan persoalan kecemburuan. Namun, alasan tersebut tidak menjadi pembenaran atas tindakan kekerasan yang dilakukan.
Dugaan Kekerasan Sebelumnya
Perkara Alejandra juga menjadi semakin kompleks karena terdapat keterangan mengenai dugaan perilaku kekerasan Mario sebelum pembunuhan tersebut.
Keluarga korban memberikan keterangan mengenai perilaku agresif Mario. Dalam laporan media Guatemala, terdapat informasi bahwa ia sebelumnya pernah melakukan tindakan kekerasan terhadap perempuan di lingkungan keluarganya.
Dalam proses persidangan, aspek perilaku dan pandangan Mario terhadap perempuan juga menjadi bagian yang diperhatikan.
Menurut laporan Prensa Libre mengenai putusan pengadilan, pemeriksaan psikiatri yang digunakan dalam proses hukum menunjukkan adanya sikap misoginis dan kecenderungan merendahkan perempuan.
Hal tersebut menjadi penting karena perkara ini kemudian diproses sebagai femicidio, bukan sekadar perselisihan biasa antara pasangan.
Mengapa Disebut “Ms. Pacman”?
Salah satu hal yang paling sering disalahpahami mengenai kasus ini adalah asal-usul nama “Ms. Pacman”.
“Ms. Pacman” bukan nama korban.
Alejandra Icó Chub tidak pernah menggunakan nama tersebut. Julukan itu muncul di internet setelah rekaman kasusnya beredar luas.
Nama tersebut kemudian dikaitkan dengan karakter permainan video Ms. Pac-Man. Hubungan tersebut hanya merupakan pemberian julukan oleh komunitas internet dan sama sekali tidak berkaitan dengan kasus secara resmi.
Penggunaan nama tersebut juga menimbulkan persoalan etika karena berpotensi mengubah tragedi nyata menjadi sekadar sebuah objek hiburan atau shock content.
“Ms. Pacman” adalah label internet, bukan identitas korban.
Karena itu, penyebutan nama asli korban menjadi penting agar pembahasan mengenai kasus ini tetap berpusat pada manusia yang menjadi korban, bukan semata-mata pada video yang beredar.
Bagaimana Video Itu Menjadi Viral?
Kasus Alejandra terjadi pada masa ketika media sosial dan aplikasi pesan telah menjadi bagian besar dari kehidupan sehari-hari. Rekaman yang dibuat menggunakan telepon seluler dapat dengan mudah disalin dan diteruskan dari satu pengguna kepada pengguna lainnya.
Setelah rekaman tersebut beredar, kasus Alejandra mulai dibicarakan di berbagai platform internet.
Rekaman kemudian muncul kembali melalui berbagai bentuk, termasuk forum internet, media sosial, situs yang mengarsipkan konten kekerasan, unggahan ulang, serta pembahasan mengenai shock content.
Akibatnya, sebuah kasus yang terjadi pada 2018 terus muncul kembali bertahun-tahun setelah peristiwa aslinya.
Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana internet dapat membuat sebuah tragedi memiliki “kehidupan kedua” yang jauh lebih panjang daripada peristiwa aslinya.
Perjalanan Hukum Mario Tut Ical
Setelah ditangkap, Mario Tut Ical menjalani proses hukum di Guatemala.
Pada 28 November 2018, perkara terhadapnya memasuki proses hukum dan ia ditempatkan dalam tahanan preventif.
Perkara tersebut kemudian berlangsung selama beberapa tahun sebelum akhirnya memasuki tahap putusan.
Vonis 50 Tahun Penjara
Pada 29 Agustus 2023, Tribunal de Sentencia de Femicidio de Alta Verapaz menjatuhkan hukuman kepada Mario Tut Ical.
Mario dinyatakan bersalah atas femicidio terhadap Alejandra Icó Chub dan dijatuhi hukuman 50 tahun penjara.
Hukuman tersebut disebut sebagai hukuman maksimal dalam perkara tersebut.
Putusan itu menjadi titik penting setelah hampir lima tahun sejak pembunuhan Alejandra terjadi.
Dalam laporan Prensa Libre setelah putusan, proses hukum masih memiliki tahapan lanjutan dan putusan pada saat itu belum disebut berkekuatan hukum tetap.
Hak dan Pemulihan bagi Anak-Anak Alejandra
Perkara tersebut tidak hanya berakhir pada hukuman terhadap pelaku.
Pada 1 September 2023, pengadilan membahas mekanisme reparación digna, yaitu bentuk pemulihan bagi keluarga korban.
Pengadilan menetapkan bahwa masing-masing dari tiga anak Alejandra berhak mendapatkan kompensasi sebesar Q50.000.
Selain kompensasi, pengadilan juga menetapkan bentuk dukungan lain, termasuk bantuan psikologis serta dukungan pendidikan berupa beasiswa.
Anak-anak Alejandra dipandang sebagai korban tidak langsung dari tindak pidana tersebut karena mereka kehilangan ibu dan harus menjalani kehidupan dengan dampak psikologis serta sosial yang ditimbulkan oleh kasus tersebut.
Bukan Sekadar Video Gore
Jika kasus ini hanya dilihat sebagai salah satu video gore di internet, konteks sebenarnya akan hilang.
Video tersebut bukan sekadar rekaman mengerikan. Di baliknya terdapat seorang perempuan nyata, tiga orang anak, sebuah hubungan yang diwarnai kekerasan, sebuah pembunuhan, proses hukum selama bertahun-tahun, serta persoalan mengenai bagaimana tragedi manusia dapat berubah menjadi konten viral.
Karena itu, pembahasan mengenai kasus “Ms. Pacman” seharusnya tidak berfokus pada seberapa mengerikan isi rekamannya.
Hal yang jauh lebih penting adalah memahami siapa korbannya, apa yang terjadi, bagaimana proses hukum berlangsung, serta bagaimana masyarakat dan internet memperlakukan dokumentasi tragedi tersebut.
Sebuah kajian akademis mengenai kasus Alejandra juga menyoroti persoalan revictimization atau viktimisasi ulang, yaitu kondisi ketika korban kembali mengalami dampak negatif setelah kematiannya akibat cara tragedi tersebut dibicarakan, ditampilkan, atau disebarluaskan.
Kesalahan Informasi yang Sering Beredar
1. Nama korban bukan Alejandro
Beberapa situs internet menuliskan nama korban sebagai Alejandro Ico Chub.
Namun, sumber media Guatemala yang kredibel seperti Prensa Libre menggunakan nama Alejandra Icó Chub.
Kesalahan tersebut kemungkinan muncul akibat informasi yang disalin dari situs sekunder tanpa melakukan pemeriksaan terhadap sumber primer atau media lokal.
2. “Ms. Pacman” bukan nama korban
Nama tersebut merupakan julukan internet yang muncul setelah rekaman kasus beredar.
Korban adalah Alejandra Icó Chub.
3. Kasusnya bukan kejadian baru
Peristiwa terjadi pada 29 Oktober 2018.
Video dan kasusnya kemudian muncul kembali dalam berbagai gelombang viral di internet.
4. Pelaku telah dijatuhi hukuman
Mario Tut Ical dijatuhi hukuman 50 tahun penjara pada Agustus 2023 setelah dinyatakan bersalah atas femicidio terhadap Alejandra Icó Chub.
Mengapa Video Lama Seperti Ini Terus Muncul?
Kasus “Ms. Pacman” menunjukkan salah satu karakteristik internet yang paling sulit dikendalikan: konten digital hampir tidak pernah benar-benar hilang.
Sebuah video dapat dihapus dari satu platform, tetapi sebelumnya mungkin telah:
- diunduh oleh pengguna;
- disalin ke perangkat lain;
- diunggah kembali ke situs berbeda;
- dipotong menjadi klip;
- diberi judul baru;
- dibagikan melalui forum;
- atau kembali viral bertahun-tahun kemudian.
Akibat mekanisme tersebut, kasus yang terjadi pada 2018 masih dapat muncul kembali dalam pencarian internet dan media sosial bertahun-tahun setelah peristiwa aslinya.
Inilah salah satu alasan mengapa informasi mengenai kasus tersebut perlu diperiksa kembali setiap kali muncul dalam bentuk baru.
Kesimpulan
“Ms. Pacman” bukan film horor, adegan fiksi, ataupun video yang dibuat untuk hiburan.
Istilah tersebut merujuk pada rekaman nyata yang berkaitan dengan kasus femicidio Alejandra Icó Chub, perempuan berusia 32 tahun dari Alta Verapaz, Guatemala.
Alejandra dibunuh oleh pasangannya, Mario Tut Ical, pada 29 Oktober 2018. Rekaman kondisi korban kemudian tersebar di internet dan mendapatkan julukan “Ms. Pacman”.
Seiring berjalannya waktu, nama korban justru berisiko tenggelam di balik julukan internet tersebut.
Padahal, yang seharusnya diingat bukanlah nama yang diberikan internet kepada sebuah video, melainkan nama korban dan fakta bahwa di balik rekaman tersebut terdapat seorang manusia yang kehilangan hidupnya serta tiga anak yang kehilangan ibu mereka.
Proses hukum akhirnya menghasilkan vonis 50 tahun penjara terhadap Mario Tut Ical pada Agustus 2023. Pengadilan juga menetapkan mekanisme pemulihan bagi tiga anak Alejandra.
Kasus ini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa tragedi nyata tidak seharusnya diperlakukan sekadar sebagai shock content.
Video dapat menjadi viral dalam hitungan menit, tetapi penderitaan korban dan keluarganya berlangsung jauh lebih lama.






